Showing posts with label jagad raya. Show all posts
Showing posts with label jagad raya. Show all posts

7 Misteri Terbesar Mars

Tuesday, November 22, 2011

Mars dikenal sebagai "bintang api" oleh astronom kuno China. Peneliti masa kini sering menyebutnya sebagai planet merah.Meskipun puluhan wahana ruang angkasa telah dikirimkan ke Mars, masih banyak hal yang menjadi teka-teki dan memunculkan pertanyaan mengenai planet tersebut. Inilah beberapa misteri Planet Mars yang menarik disimak, seiring dengan rencana NASA meluncurkan wahananya, Mars Science Laboratory Curiosity, ke sana pada 25 November mendatang.
1. Mengapa Mars memiliki dua wajah berbeda?
Para peneliti sejak lama bertanya-tanya mengapa dua sisi Planet Mars memiliki perbedaan yang mencolok? Belahan utara Mars bisa dikatakan datar dan berupa dataran rendah, bahkan termasuk salah satu permukaan paling datar, paling halus di tata surya. Kondisi itu barangkali terbentuk oleh air yang diduga pernah mengalir di permukaan planet merah.
Sementara itu, kebalikannya, belahan selatan Mars memiliki permukaan yang terjal, berkawah, dan sekitar 4 km hingga 8 km lebih tinggi dibanding belahan utara. Bukti-bukti terkini memunculkan perkiraan bahwa perbedaan antara sisi utara dan selatan Mars itu diakibatkan oleh batu raksasa dari ruang angkasa yang menghantam Mars pada masa lalu.
2. Dari mana asal gas metana di Mars?
Metana—molekul organik paling sederhana—pertama kali ditemukan di atmosfer Mars oleh wahana Mars Express milik Badan Antariksa Eropa pada tahun 2003. Di Bumi, sebagian besar gas metana di atmosfer dihasilkan oleh makhluk hidup. Gas metana diduga sudah ada di atmosfer Mars sejak 300 tahun lalu. Artinya, apa pun sumbernya, keberadaan gas tersebut belum lama.
Meski begitu, gas metana bisa juga muncul di luar kehidupan, seperti misalnya dari aktivitas vulkanik. Wahana ExoMars milik ESA yang akan diluncurkan pada 2016 bakal meneliti komposisi kimia atmosfer Mars dan mempelajari keberadaan metana di sana.
3. Di manakah lautan Mars?
Banyak misi ke Mars menemukan bukti-bukti bahwa planet tersebut pernah memiliki kondisi cukup hangat sehingga air tidak membeku dan bisa mengalir di permukaannya. Bukti-bukti itu antara lain berupa wilayah yang seperti bekas lautan, jaringan-jaringan lembah, delta-delta sungai, dan sisa-sisa mineral yang seolah terbentuk oleh air.
Meski begitu, pemodelan iklim Mars belum bisa menjelaskan bagaimana temperatur hangat itu bisa terjadi, mengingat cahaya Matahari jauh lebih lemah dahulu. Ada dugaan, bentuk-bentuk di atas terbentuk bukan oleh air, melainkan oleh angin atau mekanisme lain. Namun masih tetap ada bukti bahwa Mars pernah cukup hangat untuk mendukung keberadaan air dalam bentuk cair, setidaknya di satu tempat di permukaannya.
4. Apakah ada air mengalir di permukaan Mars saat ini?
Meski sebagian besar bukti menunjukkan bahwa air pernah mengalir di permukaan Mars, masih menjadi teka-teki apakah masih ada air yang mengalir di permukaan planet tersebut saat ini. Tekanan atmosfer Mars terlalu rendah, sekitar satu per seratus tekanan di Bumi sehingga air sulit berada di permukaannya. Namun ada jalur gelap dan sempit di lereng-lereng Mars yang memunculkan dugaan bahwa ada air yang mengalir tiap musim semi.
5. Apakah ada kehidupan di Mars?
Wahana pertama yang berhasil mendarat di Mars, Viking 1 milik NASA, memunculkan teka-teki yang masih misterius saat ini: Adakah bukti kehidupan di Mars? Viking adalah wahana yang secara khusus ditugaskan untuk mencari kehidupan di Mars, dan apa yang ditemukan masih menjadi perdebatan hingga hari ini. Wahana itu telah menemukan adanya molekul organik seperti metil klorida dan dichloromethane. Walau demikian, senyawa-senyawa itu bisa jadi merupakan kontaminasi dari Bumi yang terbawa saat wahana bersiap meluncur di Bumi.
Permukaan Mars sendiri sangat tidak bersahabat bagi makhluk hidup dalam hal suhu yang sangat rendah, radiasi, kondisi kering, dan faktor-faktor lain. Walau begitu, ada makhluk-makhluk hidup yang bisa bertahan di lingkungan ekstrem di Bumi, seperti di Lembah Kering Antartika yang dingin dan kering, atau wilayah amat kering di Gurun Atacama di Cile.
Secara teori, selalu ada kehidupan, seperti ada air dalam bentuk cair di Bumi. Kemungkinan pernah adanya lautan di Mars memunculkan pertanyaan apakah pernah ada kehidupan di sana. Bila ada, apakah sampai saat ini makhluk-makhluk hidup itu tetap eksis? Jawaban atas pertanyaan itu mungkin membantu memberikan sedikit pencerahan terhadap pertanyaan seberapa umumkah kehidupan di jagat raya.
6. Apakah kehidupan di Bumi berawal dari Mars?
Meteorit yang ditemukan di Antartika dan berasal dari Mars—terlempar dari planet merah akibat tabrakan kosmis—memiliki struktur serupa dengan batuan yang dihasilkan mikroba di Bumi. Meski penelitian lebih jauh menunjukkan bahwa struktur itu terbentuk karena proses kimia dan bukan biologi, perdebatan mengenai Mars sebagai asal-usul kehidupan di Bumi masih berlanjut. Beberapa orang masih memegang teori bahwa kehidupan di Bumi berasal dari Mars, dan terbawa ke Bumi bersama meteorit.
7. Bisakah manusia hidup di Mars?
Untuk menjawab apakah kehidupan pernah ada atau masih ada di Mars, barangkali manusia perlu pergi ke sana dan mencarinya sendiri.
Pada tahun 1969, NASA pernah merencanakan misi berawak ke Mars pada tahun 1981 dan membangun stasiun permanen di sana tahun 1988. Namun perjalanan antarplanet itu ternyata menghadapi tantangan ilmiah dan teknologi yang tidak kecil.
Para ilmuwan harus mengatasi berbagai masalah perjalanan antarplanet, seperti makanan, air, oksigen, efek gravitasi mikro, kemungkinan radiasi yang berbahaya, dan kenyataan bahwa astronot yang pergi ke sana akan berada jutaan kilometer dari Bumi sehingga tidak mudah untuk mendapat bantuan bila terjadi sesuatu. Selain itu, mendarat, bekerja, dan hidup di planet lain lalu kembali ke Bumi bukan perkara mudah.
Meski begitu, banyak peneliti yang ingin melakukan misi itu. Tahun ini, enam sukarelawan hidup terisolasi seolah sedang berada dalam wahana ruang angkasa selama 520 hari dalam proyek yang disebut Mars500. Simulasi penerbangan ruang angkasa terlama ini bertujuan untuk meniru perjalanan ke Mars.
Banyak sukarelawan bahkan bersedia diterbangkan ke Mars meski kemungkinan tidak bisa kembali. Berbagai rencana juga dibuat, misalnya dengan mengirimkan mikroba pemakan batu terlebih dahulu, sebelum manusia didatangkan. Teka-teki mengenai apakah manusia akan pernah menjejakkan kaki ke Mars memang masih tergantung pada alasan, mengapa kita harus mencoba menjelajahi planet merah itu.
READ MORE - 7 Misteri Terbesar Mars

Pulau Purba Ditemukan di Samudra Hindia

Thursday, November 17, 2011

Ilmuwan menemukan dua pulau purba yang telah tenggelam di Samudra Hindia, yang berlokasi di sebelah barat Australia.
Pulau tersebut berukuran lebih kurang sepersepuluh luas DKI Jakarta dan dahulu menjadi bagian dari Gondwana, dataran luas di belahan Bumi selatan di masa lalu yang kini meliputi Antartika, Afrika, Amerika Selatan, Irian, Selandia Baru, Kaledonia Baru, India, dan Madagaskar.
Ilmuwan dari Universitas Sydney, Macquaruie University, dan University of Tasmania di Australia menemukan dua pulau itu dalam ekspedisi memetakan dasar laut Perth Abyssal Plain. Meski dua pulau itu kini tenggelam di kedalaman 1,6 km di bawah laut, dulu pulau tersebut pernah menjadi salah satu daratan penghubung India dan Australia.
"Data yang diambil dari ekspedisi ini bisa secara signifikan mengubah pemahaman kita tentang bagaimana India, Australia, dan Antartika terpisah dari Gondwana," kata Joanne Whittaker, geolog dari University of Sydney, seperti dikutip Foxnews, Senin (14/11/2011).
Whittaker mengungkapkan, dua pulau tersebut disebut mikrokontinen. Menurutnya, pulau tersebut terbentuk ketika daratan India mulai menjauh dari Australia 130 juta tahun lalu di masa Cretaceus, ketika dinosaurus menguasai Bumi.
READ MORE - Pulau Purba Ditemukan di Samudra Hindia

Kehidupan Zaman Es Masih Berlangsung di China

Zaman es diperkirakan masih terjadi di goa-goa terdalam di "Negari Tirai Bambu" China. Tersembunyi di dalam goa, fragmen dari zaman es Bumi masih selamat. Walaupun tidak ada mammoth yang masih selamat, tetapi sebuah tumbuhan kecil yang merepresentasikan 30.000 tahun lalu diperkirakan masih ada.Peneliti dari Chinese Academy of Science dan Natural History Museum Inggris menyatakan telah mengidentifikasi tujuh spesies jelatang dari Provinsi Guaxi dan Yunnan. Jelatang atau dalam bahasa Inggris disebut poison ivy adalah jenis tumbuhan berbulu halus yang bisa menyebabkan gatal di kulit.
Seharusnya di kedua provinsi tersebut terdapat tumbuhan tropis. Namun, tujuh spesies yang ditemukan tidak mirip dengan tumbuhan tropis. Jelatang tersebut ditemukan di tempat-tempat gelap, di mana jarang ada sinar matahari.
Fakta yang ada, kemungkinan jelatang untuk bisa hidup di kegelapan hanya 0,02 persen. Hal ini sangat tidak mungkin terjadi di zaman sekarang ini ehingga kemungkinan zaman es masih berlangsung di goa tersebut.
Lingkungan yang memungkinkan jelatang macam ini bisa hidup adalah pada zaman es. Goa dan jelatang ini merupakan sisa-sisa dari kehidupan zaman es yang masih ada di planet ini. Selain itu, ada kemungkinan lainnya yang memungkinkan hal ini terjadi, yaitu evolusi pada jelatang. Akan tetapi, umur dari goa tersebut hanya satu juta tahun yang berarti bahwa evolusi pada jelatang terjadi sangatlah cepat.
Peneliti mengatakan bahwa ini adalah contoh evolusi yang sangat cepat, mereka akan meneliti hal ini secepatnya.(National Geographic Indonesia/Arief Sujatmoko)
READ MORE - Kehidupan Zaman Es Masih Berlangsung di China

Dua Planet Baru Kembali Ditemukan Kepler

Tuesday, August 9, 2011

Wahana antariksa Kepler kembali menunjukkan keampuhannya. Dua planet yang dideteksinya dapat dikonfirmasi oleh Hobby-Eberly Telescopes dan Nordic Optical Telescope.
Planet pertama yang ditemukan adalah Kepler 14b yang memiliki massa delapan kali Yupiter dan terletak pada sistem bintang ganda. Berdasarkan publikasi NASA, planet ini mengorbit bintangnya dalam waktu sangat singkat, tujuh hari. Bintang kedua mengorbit bintang pertama dalam waktu jauh lebih lama, 2.800 tahun.
Ada kesulitan ketika astronom hendak menemukan planet ini. Cahaya dari bintang yang tak diorbit planet begitu menyilaukan sehingga membuat peredupan yang diakibatkan oleh planet tak begitu tampak. Jika tak hati-hati, hal itu berdampak pada ketidaktepatan karakteristik Kepler 14b. Namun, masalah ini bisa diatasi.
Sementara itu, planet kedua yang ditemukan adalah Kepler 17b. Planet ini memiliki massa 2,5 kali Yupiter dan bersama Kepler 14b dimasukkan dalam kategori Hot Jupiter. Kepler 17b mengorbit bintang yang seukuran dengan Matahari, tetap lebih muda. Periode orbitnya adalah 1.486 hari, sedangkan arah orbit planet diketahui searah dengan arah putaran bintang.
Analisis pada bintang yang diorbit planet itu menunjukkan adanya peredupan yang tidak hanya diakibatkan oleh Kepler 14b. Seperti diuraikan di situs Physorg, hal itu mungkin disebabkan oleh aktivitas bintang ataupun sunspot.
Penemuan dua planet ini bukanlah yang pertama oleh Kepler. Sebelumnya, Kepler menemukan ratusan planet, salah satunya Kepler 10b yang berukuran 1,4 kali massa Bumi, tetapi tak bisa dihuni manusia. Tahun 2020, Kepler ditargetkan bisa menemukan 10.000 planet.
READ MORE - Dua Planet Baru Kembali Ditemukan Kepler

Bukti Alam Semesta Lebih dari Satu

Saturday, August 6, 2011

Benarkah ada alam semesta selain yang kita diami sekarang? Teori fisika modern membenarkannya.  Berdasarkan teori itu, semesta tak cuma satu, dunia adalah dunia yang multiverse. Semesta tempat kita hidup berada dalam sebuah gelembung di mana ada semesta lain yang terdapat di dalamnya. Tabrakan antarsemesta adalah hal yang mungkin terjadi.Fisikawan dari University College London (UCL) kini mengembangkan cara untuk mendeteksi jejak tabrakan itu. Mereka membuat simulasi langit dengan atau tanpa tabrakan dan mengembangkan algoritma dasar untuk menentukan citra yang sesuai dengan data radiasi gelombang mikro kosmos dari Wilkinson Microwave Aniostropy Probe (WMAP) milik NASA.
Metode yang dikembangkan para ilmuwan itu dipublikasikan di jurnal Physics Review Letters dan Physical Review D yang terbit Juli 2011. Algoritma yang dikembangkan memiliki keampuhan sebab bisa menyelesaikan masalah yang sering dihadapi saat ini dalam mendeteksi jejak tabrakan antarsemesta.
"Semua pola-pola yang didapatkan dalam data acak terlalu mudah untuk diinterpretasikan lebih (seperti klaim penemuan pahatan wajah Mahatma Gandhi di Mars yang ternyata citra gunung). Jadi kami berhati-hati dalam melihat data, seberapa mungkin tanda tabrakan ini cuma kebetulan," kata Daniel Mortlock, ilmuwan UCL yang terlibat penelitian ini.
Mortlock mengatakan, dengan mengembangkan metode untuk mendeteksi tabrakan, teori bahwa dunia terdiri atas banyak semesta bisa dibuktikan atau dibantah. Selama ini, beberapa klaim penemuan jejak tabrakan antarsemesta ada, tapi belum bisa dipastikan bahwa jejak yang dimaksud adalah hasil tabrakan atau hanya noise dalam data.
Seperti dikutip Physorg, Rabu (3/8/2011), Stephen Feeney, pelajar UCL yang terlibat penelitian itu mengungkapkan, "Penelitian ini memberikan kesempatan untuk membuktikan teori yang benar-benar mengejutkan, bahwa kita ada dalam dunia yang multiverse, di mana semesta lain juga eksis di dalamnya."
READ MORE - Bukti Alam Semesta Lebih dari Satu

Foto Malaikat Melompat dari Matahari

Tak disangka-sangka, entitas menakjubkan seperti malaikat bisa ditemui di matahari. Kemunculan malaikat di bintang di tata surya itu tertangkap kamera NASA. Puyuh plasma luar biasa menjulang dari permukaan matahari. Beruntungnya, fenomena ini tertangkap dalam bentuk video oleh satelit NASA. Letusan meliuk-liuk itu memiliki detail menakjubkan serupa malaikat.
Liukan seperti tornado 150 ribu kilometer di atas permukaan matahari itu terjadi selama beberapa jam. Letusan plasma magnetik yang disebut prominence itu meliuk dari matahari sebelum akhirnya berpisah menjadi empat untaian berbeda dan menghilang.
Astrofisikawan Surya C. Alex Young dari Goddard Space Flight Center NASA mengatakan, “Secara kasar, ketinggiannya antara 10 sampai 12 Bumi.” Menurutnya, pemandangan menakjubkan yang terjadi pada 12 Juli itu tergantung pada sudut pandang.
Video ini diambil dari Solar Dynamics Observatory. “Struktur semacam ini bukanlah hal biasa dilihat,” tutupnya seperti dikutip Dailymail. Berikut videonya
READ MORE - Foto Malaikat Melompat dari Matahari

Terungkap, Durasi 1 Hari di Planet Neptunus

Thursday, August 4, 2011

Dengan melacak beberapa fitur tertentu di atmosfir, peneliti berhasil melakukan pengukuran akurat pertama terhadap periode rotasi planet Neptunus. Ternyata, satu hari di planet itu berlangsung tepat selama 15 jam, 57 menit dan 59 detik.

Temuan ini memperkaya pengetahuan kita seputar hal yang fundamental di Neptunus dan menyediakan pula mekanisme untuk memahami bagaimana massa planet itu didistribusikan. Seperti diketahui, Neptunus merupakan planet raksasa yang terbuat dari gas.

“Neptunus memiliki dua fitur yang memungkinkan untuk dipantau oleh Hubble Space Telescope yang tampaknya mengatur rotasi interior dari planet tersebut,” kata Erich Karkoschka, ilmuwan dari Lunar and Planetary Laboratory, University of Arizona, seperti dikutip dari Cosmos Magazine, 4 Juli 2011.

Fitur seperti ini, Karkoschka menyebutkan, tidak pernah dijumpai di planet gas raksasa lainnya.
Untuk mencari tahu berapa durasi satu hari di planet itu, Karkoschka mengukur putaran Neptunus dengan mengamati dua fitur yang terlihat mata milik atmosfir planet tersebut. Ia kemudian mengukur garis bujur di antara setiap gambar yang ditangkap lalu menentukan interval waktu antara observasi dan menyediakan informasi periode putaran.

Berhubung Neptunus telah berotasi sekitar 10 ribu kali dalam 20 tahun terakhir, Karkoschka dapat mengetahui secara akurat periode putaran dengan melacak fitur-fitur ini dalam jangka waktu tersebut.

Hasil penelitian ini merupakan peningkatan pengetahuan yang signifikan terhadap rotasional planet gas sejak pertamakali Giovanni Cassini berhasil mendapati bintik merah planet Jupiter, pada 350 tahun lalu.

Saat ini di kalangan ilmuwan sendiri tampak muncul konsensus bahwa temuan Karkoschka memang akurat. Menurut Craig O’Neill, ilmuwan antariksa dari Macquarie University, Australia, temuan Markoschka seputar periode fitur milik atmosfir Neptunus tepat.

“Selain itu, Karkoschka juga menunjukkan bahwa di kawasan kutub, kecepatan angin lebih rendah dibanding di khatulistiwa,” ucap O’Neill. “Pertanyaan besar berikutnya adalah, bagaimana caranya itu bisa terjadi,” ucapnya.
READ MORE - Terungkap, Durasi 1 Hari di Planet Neptunus

Bola Gas Raksasa di Luar Angkasa

Monday, August 1, 2011

Sebuah bintang mengeluarkan gas yang membentuk bola raksasa berwarna biru. Temuan bentuk yang unik ini memberi petunjuk baru dalam pembentukan nebula.
Nebula berbentuk bola tersebut diberi nama "Kronberger 61", sesuai dengan nama penemunya, Matthias Kronberger, seorang astronom amatir. Kronberger mendapati keberadaan nebula tersebut pada Januari 2011 ketika meneliti foto-foto digital hasil survei sejak tahun 1980-an. Kronberger menginformasikan temuannya kepada astronom profesional dari Gemini Observatory di Hawaii yang kemudian meneliti lebih lanjut dan menghasilkan gambar versi berwarna.
Kronberger 61 terletak sekitar 13.000 tahun cahaya di daerah rasi bintang Cygnus. Bentuknya nyaris bulat sempurna—bentuk yang aneh dibandingkan sekitar 3.000 nebula yang pernah ditemukan. "Sedikit sekali nebula yang sangat bulat. Biasanya mereka memanjang atau berbentuk seperti kupu-kupu atau obyek lain," kata astronom George Jacoby dari Giant Magellan Telescope Organization di Pasadena, California, Amerika Serikat, yang membantu pembuatan gambar Kronberger 61 menggunakan Gemini.
Nebula terjadi ketika sebuah bintang melebur hidrogennya menjadi helium, dilanjutkan dengan perubahan helium menjadi karbon. Saat itu bintang menjadi tidak stabil dan membengkak. Inti planet yang panas mulai kembang kempis membuat lapisan gas terluar meluruh. Saat itulah menjadi tahap awal munculnya nebula. Ketika inti planet terekspos, radiasi panasnya melontarkan gas, membuatnya tampak berpendar.
Proses pembentukan struktur nebula yang rumit saat ini masih jadi perdebatan. Sebuah pendapat mengatakan bahwa bentuk nebula dipengaruhi oleh gaya gravitasi benda langit di sekitar bintang, seperti planet besar. Pendapat lain menyebutkan bahwa bentuk tidak perlu dibantu oleh benda langit lain.
"Dalam kasus Kronberger 61, kita akan ketahui satu tahun dari sekarang, setelah teleskop Kepler berhasil meneliti bintang di pusat nebula," kata Jacoby. Jika bintang terlihat redup dan terang secara periodik, kemungkinan pembentukan nebula dibantu oleh benda langit lain. Saat redup, kemungkinan ada obyek yang lewat di antara Bumi dan bintang. Obyek itulah yang membantu pembentukan nebula.
READ MORE - Bola Gas Raksasa di Luar Angkasa

Awan Berair Terbesar Ditemukan di Ruang Angkasa

Tuesday, July 26, 2011

CALIFORNIA - Para astronot menemukan sebuah awan yang mengandung air terbesar di ruang angkasa. Awan ini mengandung 140 triliun liter air dan lebih banyak dari yang ditemukan di Bumi, serta mengambang di sekitar kuasar jauh.

"Ini merupakan awan yang ditemukan paling jauh dan yang tertua. Jaraknya sangat jauh yaitu 12 miliar tahun lalu atau hanya 1.6 miliar tahun setelah Ledakan besar," ungkap astronot, seperti yang dilansir TG Daily, Selasa (26/7/2011).

Awan tersebut merupakan salah satu objek yang dikenal paling kuat di alam semesta dan memiliki keluaran energi matahari sebesar 1.000 triliun. Kekuatannya tersebut berasal dari materi spiral di dalam lubang hitam sepermasif pusat atau sekitar 20 miliar kali lebih besar dari massa matahari.

Jumlah air dalam awan ini setidaknya 100 ribu kali lebih besar dari massa matahari, atau setara dengan 34 miliar dari massa Bumi.

"Temuan ini sangat menarik. Kami tidak hanya mendeteksi air di jangkauan terjauh dari alam semesta, tapi ini cukup untuk mengisi lautan di Bumi lebih dari 100 triliun," kata profesor Jason Glenn, Asosiasi CU-Boulder.

Pengukuran menunjukan bahwa ada cukup banyak gas yang akan membuat lubang hitam tumbuh menjadi enam kali lebih besar dari ukuran semula. Meskipun, beberapa gas mungkin berakhir dengan membentuk bintang sebagai gantinya atau dikeluarkan dari galaksi kausar sebagai sebuah arus perpindahan.

Pada galaksi Bima Sakti, setidaknya ada 4.000 kali lebih sedikit air gas daripada di kausar. Sementara uap air di Bima Sakti hanya ditemukan di daerah tertentu dengan jarak hanya beberapa tahun cahaya. Sedangkan air di kuasar jauh tampak tersebar pada jarak ratusan tahun cahaya.

Penemuan ini dibuat dengan spektrograf yang disebut Z-Spec, yang beroperasi di sepanjang gelombang milimeter di Caltech Observatorium Submillimeter di Hawaii.

"Terobosan yang datang dengan cepat dalam teknologi milimeter dan submilimeter, memungkinkan kita untuk mempelajari galaksi kuno yang tertangkap dalam tindakan formasi bintang dan supermasif lubang hitam,"tutup Glenn.
READ MORE - Awan Berair Terbesar Ditemukan di Ruang Angkasa

Kiat Kura-kura Hadapi Bencana Meteor

Kura-kura Boremys yang selamat dari tabrakan meteor yang melenyapkan dinosaurus sepertinya sama sekali tidak terpengaruh oleh bencana besar itu. Demikian menurut hasil studi yang dilaporkan dalam Society of Vertebrate Paleontology.
Menurut Walter Joyce dari University of Tubingen, kura-kura air mampu bertahan karena kemampuan alami untuk bertahan dalam kondisi berat. "Ketika temperatur terlalu dingin, mereka melakukan hibernasi. Ketika terlalu panas atau kering, mereka akan menggali lubang dalam lumpur dan menunggu kekeringan lewat," jelas Joyce. "Rupanya kemampuan itu juga berguna ketika tabrakan meteor 65 juta tahun yang lalu," tambah Joyce.
Berdasarkan fosil yang ditemukan di Hell Creek dan Fort Union di barat daya Dakota Utara dan sebelah timur Montana, ilmuwan menerka Boremys hidup 80 hingga 42 juta tahun yang lalu. Spesies yang mereka temukan menyukai daerah rawa di sekitar sungai tropis.
Boremys memakan tanaman lunak, moluska kecil, serangga dan ikan. Boremys terkecil memiliki panjang 25 sentimeter, sedangkan yang terbesar bisa mencapai 80 sentimeter.
Boremys tidak memiliki hubungan dekat dengan kura-kura modern. "Tetapi, mereka punya kebiasaan yang sama dengan kura-kura modern," jelas peneliti.
Saat meteor menabrak Bumi 65 juta tahun yang lalu, sebagian besar spesies dinosaurus yang punah. Sebagian lagi mengalami kehilangan individu dalam jumlah yang sangat besar. Sementara beberapa jenis lain, seperti kura-kura Boremys, mampu selamat.
"Hewan-hewan besar mati dalam jumlah ribuan. Sementara itu amfibi, seperti kodok dan salamander, juga reptil, masih bisa bertahan karena mereka punya teknik yang membantu mereka hidup di kondisi sulit," kata Joyce.
Joyce juga menambahkan, hewan yang selamat masih harus menghadapi masalah. "Mereka tidak selalu mampu bertahan dari pemangsa," katanya.
Kura-kura modern saat ini pun menghadapi masalah itu. "Ironis, hewan yang sudah ada sejak 220 juta tahun yang lalu sekarang hampir punah karena aktivitas manusia. Mereka selamat dari asteroid, tapi tidak selamat dari spesies kita," kata James Parham, peneliti dari Field Museum of Natural History. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)
READ MORE - Kiat Kura-kura Hadapi Bencana Meteor

Dua Hujan Meteor di Malam Bulan Ramadhan

Dua hujan meteor akan memuncak di malam Ramadhan tepatnya pada Sabtu, 13 Agustus 2011, yakni hujan meteor Perseids dan Delta Aquarids. Kedua hujan meteor tersebut akan dilengkapi dengan bulan purnama, yang sayangnya justru mengganggu pandangan ke hujan meteor.Puncak hujan meteor Delta Aguarids akan terjadi saat puncak hujan meteor Perseids dimulai. Keduanya akan menghasilkan 15 hingga 30 bintang jatuh per jam. "Meskipun ada bulan terang yang menjadi tamu, orang tetap bisa melihat hujan Delta Aquarids," kata Raminder Singh Samra, astronom dari H.R. MacMillan Space Centre di Vancouver, Kanada.
Perseids akan dimulai dengan sekitar lima meteor per jam. Mereka dapat dilihat dua minggu sebelum pertengahan agustus. Saat puncak hujan meteor rata-rata ada 60 hingga 120 meteor. Pengamatan dapat dilakukan mulai pukul 2 dini hari sampai subuh. Rasi Perseus berada di arah timur laut dengan ketinggian 30 derajat. Sementara itu, aktivitas Delta Aquarids akan terjadi akhir Juli dan awal Agustus.
Hampir seluruh orang di dunia dapat melihat hujan meteor ini. Hujan dapat terlihat dengan jelas di daerah yang gelap, jauh dari gemerlap kota. "Karena bintang jauh akan terjadi di seluruh angkasa yang terlihat, berbaringlah dan biarkan mata beradaptasi dengan kegelapan," Samra memberi saran.
Hujan meteor Delta Aquarids dan Perseids terjadi karena atmosfer Bumi menghampiri awan yang terbentuk dari butiran-butiran partikel yang dilepaskan komet. Setiap partikel masuk ke atmosfer dengan kecepatan 150.000 kilometer per jam sehingga terbakar dan menghasilkan cahaya. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)
READ MORE - Dua Hujan Meteor di Malam Bulan Ramadhan

Mencari Asal-usul Kehidupan

Dalam Frankenstein, buku klasik karya Mary Shelley yang terbit tahun 1818, Victor Frankenstein mengumpulkan potongan-potongan mayat dan menjahitnya menjadi tubuh yang utuh. Menggunakan aliran listrik, Frankenstein berhasil menciptakan kehidupan meski kemudian menyesalinya.Dalam kehidupan nyata, manusia memang tak henti-hentinya mencari jawaban, apakah kehidupan ini ada karena suatu kuasa atau semata-mata proses alam?
Ada berbagai teori dan percobaan menyangkut asal-usul kehidupan. Dalam buku The Grand Design (2010), fisikawan Stephen Hawking bersama Leonard Mlodinow menjelaskan tentang penciptaan ini. Menurut mereka, ”Tata surya dapat membentuk dirinya sendiri karena ada hukum alam, seperti gravitasi. Maka, penciptaan spontan adalah sumber adanya ’sesuatu’ dan bukan kehampaan, adanya alam semesta dan adanya kita.”
Sebelum itu, para ahli biokimia sudah merumuskan berbagai teori dan menguji coba di laboratorium. Salah satu yang fenomenal adalah uji laboratorium yang dilakukan Stanley Miller, kandidat doktor di University of Chicago, Amerika Serikat, tahun 1953.
Miller mereproduksi kondisi atmosfer purba dengan hidrogen, air, metana, dan amonia dalam bejana dan memanasinya. Dalam seminggu ia menemukan endapan senyawa organik penyusun kehidupan: asam amino.
Ragam asam amino itu—glisin, alanin, aspartik, dan glutamik—adalah unsur dasar pembentuk protein, penyusun struktur sel, dan berperan penting dalam reaksi biokimia yang dibutuhkan kehidupan.
Bukti baru
Pekan lalu, Lembaga Aeronautika dan Antariksa AS (NASA) memublikasikan hasil pengujian terhadap bahan penelitian Miller. Bahan ini, dengan alasan yang tidak pernah diketahui, tidak pernah dicoba sampai Miller meninggal tahun 2007.
Bahan ini mengandung hidrogen sulfida (H2S) yang belum pernah digunakan sebelumnya. ”Hidrogen sulfida berfungsi menstimulasi kondisi awal atmosfer kita,” kata Eric Parker dari Georgia Institute of Technology, Atlanta, dalam situs resmi NASA.
Parker adalah penulis utama laporan ilmiah tersebut dalam The Proceedings of the National Academy of Sciences.
”Sungguh mengagetkan, dengan menggunakan H2S, asam amino yang dihasilkan jauh lebih kaya dibandingkan penelitian-penelitian sebelumnya,” ujar Profesor Jeffrey Bada dari Scripps Institution of Oceanography, University of California. Ia berpartisipasi dalam penelitian ini.
Total diperoleh 22 jenis asam amino dan 10 jenis di antaranya belum pernah ditemukan dalam percobaan serupa. Salah satu dari asam amino tersebut, metionin, berperan besar dalam kode genetik. ”Metionin menginformasikan pada sel untuk menerjemahkan suatu desain menjadi protein,” kata Dr James Cleaves dari Carnegie Institution of Washington, anggota tim peneliti.
Kesimpulannya, penelitian menunjukkan peran gunung berapi pada pembentukan senyawa organik awal. Seperti diketahui, gunung berapi adalah sumber sulfur yang berlimpah. Kilat cahaya yang muncul saat gunung meletus, seperti aliran listrik yang membangkitkan kehidupan. Dengan demikian, kawasan gunung berapi bisa jadi menjadi lokasi awal mula kehidupan karena merupakan daerah yang kaya senyawa organik, baik jenis maupun jumlahnya.
Penelitian lebih lanjut pada meteorit— partikel antariksa yang tidak habis terbakar di atmosfer dan jatuh ke Bumi—menunjukkan bahwa selain kaya unsur karbon, meteorit juga mengandung beragam asam amino. Maka, bisa jadi molekul penting yang berperan dalam kehidupan berasal dari antariksa dan mempercepat munculnya kehidupan karena bahan bakunya sudah siap bersenyawa.
”Kami menemukan bahwa tipe asam amino yang dihasilkan dengan menambahkan H2S ternyata hampir sama dengan asam amino pada meteorit yang kaya karbon,” tutur D Jason Dworkin dari NASA Goddard yang memimpin Laboratorium Astrochemistry NASA.
Awal mula
Meski demikian, kerja Miller tak lepas dari teori-teori yang dihasilkan para ahli biokimia sebelumnya. Menurut John Haldane dari Inggris tahun 1929, atmosfer pada zaman Bumi purba tidak memiliki oksigen bebas.
Kemudian Haldane dan Aleksander Oparin dari Soviet menyatakan, ”Semua bahan baku kehidupan sudah ada di Bumi sejak awal mula, demikian juga dengan energi dari Matahari dan proses yang belum diketahui, tapi memicu munculnya kehidupan.”
Di Amerika, tahun 1952, ahli biokimia Harold C Urey mengelaborasi teori Haldane dan Oparin dengan menyebutkan unsur-unsur yang ada sejak terbentuknya semesta, yaitu hidrogen, oksigen, nitrogen, dan karbon. Inilah yang kemudian membentuk air, amonia, dan metana sebagai unsur dasar pembentuk kehidupan.
Adalah Stanley Miller yang kemudian mengombinasikan ide Haldane, Oparin, dan Urey dalam percobaannya. Selain menemukan senyawa organik penyusun kehidupan, percobaan Miller juga membuktikan betapa mudah asam amino terbentuk.
Pada tahun yang sama, 1953, penemuan struktur DNA—deoxyribonucleic acid yang membawa kode genetik—semakin membuktikan besarnya peran senyawa organik dasar menyusun kehidupan. Penemuan DNA juga membuka pemahaman terhadap beberapa senyawa, di antaranya asam nukleid, yang bisa bereplikasi dan mewariskan kehidupan.
Semua penelitian di atas mengarah pada pembentukan asam amino sebagai langkah awal evolusi. Akan tetapi, betulkah semua ini proses alam semata seperti yang dipercaya Hawking dan Mlodinow, ataukah ada kehendak Yang Kuasa?
READ MORE - Mencari Asal-usul Kehidupan

Fenomena "Sundog" Tampak bagai UFO

Tuesday, May 3, 2011

Seorang fotografer asal Bristol, Adam Gasson, berhasil mengabadikan fenomena Sundog di sebuah pantai wilayah utara Cowes, Isle of Wight, Inggris, yang tampak pada Sabtu (5/3/2011).
Sundog memiliki nama ilmiah parhelion. Ini adalah fenomena di atmosfer berupa spot cahaya yang terang yang biasanya muncul saat curah hujan tinggi dan suhu atmosfer sangat dingin.
Sundog terbentuk ketika terdapat kristal es (yang kadang disebut debu berlian) di udara rendah. Kristal es akan membelokkan sinar matahari dengan sudut minimal 22 derajat.
Jika kristal tersusun random, maka akan terbentuk halo matahari. Namun, jika kristal tersusun berlapis, maka cahaya matahari akan dibelokkan horizontal dan sundog terbentuk.
Sundog bisa disebut juga anjing penjaga matahari. Seperti namanya, sundog seolah akan menemani matahari, menyebabkan munculnya "matahari baru" di sisi Matahari.
Gasson mengatakan, "Saya melihat sundog itu melayang di langit dan saya berpikir, ini pasti sesuatu yang spesial. Cara sundog itu melayang di langit membuatnya bagaikan UFO."
"Sundog itu bertahan di langit ketika saya melihatnya selama lebih kurang 20 menit. Ia tampak sangat terang dan merupakan salah satu hal terindah yang pernah saya saksikan," katanya.
Fenomena sundog pernah terjadi juga di Thailand dan Kazakhstan. Di China, fenomena sundog juga pernah terjadi dan mengakibatkan Bumi seolah-olah memiliki empat matahari.
Di Indonesia, sundog mungkin belum pernah dijumpai. Namun, fenomena halo sudah pernah tampak di beberapa daerah, seperti Bogor, Yogyakarta, dan Padang.
READ MORE - Fenomena "Sundog" Tampak bagai UFO

Bau Ruang Angkasa seperti "Steak" Bakar

Wednesday, February 16, 2011

Angkasa luar ternyata memiliki bau yang kebanyakan bersumber dari bintang yang hampir mati. Campuran asap solar, logam panas, dan aroma bakaran barbeque, kira-kira seperti itulah bau ruang angkasa. Campuran bebauan dari bintang mati itu disebut polycyclic aromatic hydrocarbons.
Menurut penemu dan Direktur Laboratorium Astrofisika dan Astrokimia Pusat Penelitian Ames NASA, Louis Allamandola, molekul-molekul tersebut sepertinya berada di seluruh ruang angkasa. "Molekul tersebut juga melayang di sana selamanya, di dalam komet, meteor, dan debu angkasa," tuturnya. Hidrokarbon itu bahkan disebut-sebut sebagai bentuk awal kehidupan di Bumi. Karena itu, hidrokarbon dapat ditemukan pada batu bara, minyak, dan makanan.
Astronot sering kali melapor mencium bau steak bakar setelah berjalan di ruang angkasa. Walaupun manusia tidak bisa menghirup bebauan di ruang angkasa, saat astronot berada di luar stasiun ruang angkasa, senyawa dan komponen antariksa menempel pada baju mereka dan ikut masuk ke stasiun.
Bau ruang angkasa tercium dengan jelas saat tiga tahun lalu NASA memerintahkan Steven Pearce, pembuat wewangian Omega, untuk kembali dan menciptakan bau yang cocok untuk simulasi.
Allamandola menjelaskan, sistem tata surya kita baunya tajam dan pedas karena kaya akan karbon dan rendah oksigen. Analoginya sama dengan mobil. Jika kekurangan oksigen di dalam mobil, maka akan terlihat jelaga hitam dan bau busuk. Bintang yang kaya oksigen tercium seperti arang terpanggang.
Saat nanti kita dapat meninggalkan galaksi, baunya akan semakin menarik. Di dalam ruang angkasa yang gelap dan molekul penuh debu,  bau gula manis hingga bau telur busuk dan belerang akan tercium.
READ MORE - Bau Ruang Angkasa seperti "Steak" Bakar

Matahari Julurkan Lidah Api Terkuat

KOMPAS.com - Matahari menjulurkan lidah api pada tanggal 15 Februari 2011 lalu. Juluran lidah api yang terjadi tergolong dalam kelas X2 dan tergolong juluran terkuat yang pernah terjadi dalam kurun waktu 4 tahun terakhir.
Lidah api adalah ledakan besar di atmosfer matahari yang bisa melepaskan energi sebesar 6 x 10 (25) Joule. Lidah api ini dibagi dalam beberapa kelas berdasarkan kekuatannya, di mana yang terbesar adalah kelas X.
Lidah api bisa memengaruhi seluruh lapisan atmosfer matahari. Lidah api akan meningkatkan temperatur plasma hingga jutaan Kelvin, menghasilkan radiasi dari beragam panjang gelombang dan menyebabkan lontaran massa korona.
Lidah api terkuat yang terjadi kemarin berasal dari bintik matahari nomor 1158. Lidah api tersebut merupakan lidah api tertama dari siklus matahari saat ini (solar Cycle 24) yang dimulai 8 Januari 2008 lalu.
"Ini adalah lidah api terbesar yang terjadi sejak 6 Desember 2006," kata Phill Chamberlin, ilmuwan yang terlibat dalam proye Solar Dynamics Observatory NASA. "Kami terkejut ketika mengetahui ini adalah kelas X," lanjutnya.
Chamberlin mengungkapkan, lidah api kelas X kali ini akan diikuti oleh lidah api kelas X yang akan terjadi 2-4 tahun mendatang. Frekuensi terjadinya lidah api akan memuncak ketika mendekari siklus matahari maksimum.
Lontaran massa korona yang terjadi akibat lidah api ini akan mencapai bumi kurang lebih Kamis (17/2/2011) besok, antara 36-48 jam setelah lidah api terjadi. Lontaran massa korona bisa menyebabkan badai geomagnetik.
Gangguan badai matahari
Dampak badai geomagnetik sendiri takkan terlalu siginifikan. Kemungkinan yang terjadi adalah gangguan komunikasi satelit, gangguan sinyal GPS, gangguan jaringan listrik dan kemungkinan korosi pada jaringan bawah tanah.
Jika ada dampak lain, maka dampak ini justru tampak manis. Ketika lontaran masa korona sampai ke bumi, di belahan utara bumi akan muncul fenomena aurora borealis, tampak seperti semburat cahaya matahari dengan berbagai pola.
Sayangnya fenomena terakhir hanya bisa disaksikan jika berada di lintang tinggi. Lidah api matahari sendiri pertama kali diobservasi secara independen oleh Richard Hodgson pada tahun 1859.
Situs astronomi lokal, Langitselatan.com memberitakan bahwa Alfan Nasrulloh sempat mengamati fenomena lidah api ini dengan menggunakan teleskop radio JOVE di observatorium Bosscha.
"Observatorium Bosscha bisa terlibat aktif di radio (frekuensi rendah) untuk 'menyambut' siklus aktifitas matahari ke-24 dengan puncak aktifitas matahari sekitar 2012-2014 dalam bentuk solar patrol," demikian diberitakan situs itu.
READ MORE - Matahari Julurkan Lidah Api Terkuat

Pendaratan Manusia DI Planet MARS

KOMPAS.com - Hari Senin (14/2/2011), tiga orang kosmonot-istilah Rusia untuk astronot-dijadwalkan untuk menjelajahi permukaan Mars dalam rangka investigasi geologis. Ketiga orang itu, Diego Urbina (Italia), Alexander Smoleevskiy (Rusia), dan Wang Yue (China) merupakan tim pertama dari tim Mars500 yang terdiri dari enam orang. Ketiga anggota tim lainnya adalah Romain Charles (Perancis), Sukhrob Kamolov, dan Alexey Sitev (Rusia).
Dr. Martin Zell, Kepala European Space Agency (ESA) di International Space Station (ISS) menjelaskan, dua dari tiga orang dalam tim pertama akan turun ke permukaan Mars sementara seorang lagi tetap berada dalam modul pendaratan. Sedangkan tiga orang anggota tim kedua dijadwalkan baru akan menjelajahi Mars pada 27 Februari.
Namun, penjelajahan tersebut baru akan terjadi secara virtual, belum terjadi secara nyata. Semua aktivitas dikendalikan oleh sistem komputer. Jadi pada kenyataannya, permukaan Mars yang mereka jelajahi adalah lantai berpasir dalam sebuah modul luar angkasa yang terletak di Moskow, Rusia. Ini merupakan simulasi penjelajahan ke Planet Mars.
Meski begitu, anggota tim yang akan melakukan penjelajahan tetap mengenakan pakaian luar angkasa lengkap yang biasa dipakai kosmonot. Sebuah robot juga akan menyertai dua orang yang menjelajahi permukaan Mars. Selain itu, seluruh aktivitas mereka juga akan dipantau oleh Pusat Misi Moskow.
Proyek Mars 500 sudah dimulai sejak Juni tahun 2010. Proyek yang dijalankan atas kerja sama Russia's Institute of Biomedical Problems dengan ESA ini bertujuan untuk mempelajari efek psikologis dan fisiologis yang akan dialami manusia dalam perjalanan panjang ke luar angkasa. Sampai saat ini, menurut Zell, mereka belum menemui masalah serius.
Proyek itu sendiri dinamakan Mars500 karena mensimulasikan waktu yang diperlukan manusia untuk melakukan misi ke Mars di masa depan dengan menggunakan roket seperti saat ini. Misi diperkirakan memakan waktu 250 hari untuk sampai ke Mars, 30 hari untuk berada di permukaannya, dan 240 hari perjalanan kembali ke Bumi (total 520 hari). Namun pada kenyataannya, waktu yang diperlukan bisa saja lebih lama dari perkiraan ini.
Mars500 memang belum berhasil membuat simulasi tanpa-berat konstan layaknya perjalan delapan bulan di luar angkasa. Namun misi itu telah berhasil menerapkan komunikasi antara anggota tim yang berada di dalam modul dan di luar modul dimana perlu waktu tunda 20 menit untuk mencapai kedua titik itu. Waktu tersebut tidak jauh berbeda dengan waktu yang harus ditempuh gelombang radio antara Mars dan Bumi.
READ MORE - Pendaratan Manusia DI Planet MARS

Lubang Hitam Terbesar Dapat Menelan Seluruh Galaksi

Tuesday, January 18, 2011

TEXAS - Para ahli Astronomi yang dipimpin oleh Karl Gebhardt dari The University of Texas di Austin, Texas, telah mengukur lubang hitam terbesar dengan mengkombinasikan data dari teleskop raksasa di Hawaii dan juga teleskop yang lebih kecil di Texas. 

Hasilnya, diprediksi lubang tersebut memiliki ukuran yang sama dengan sekira 6,6 miliar matahari yang bisa dimasukkan ke dalam lubang hitam di galaksi M87. Ukuran maha besar ini adalah yang terbesar yang pernah diukur untuk sebuah lubang hitam. Demikian seperti yang dikutip dari Mumbai Mirror, Selasa (18/1/2011). 

Berdasarkan ukurannya yang sangat besar, galaksi M87 adalah kandidat terbaik untuk mempelajari sebuah lubang hitam untuk pertama kali. Hasil penelitian ini akan dipublikasikan dalam Astrophysical Journal. 

Gebhart memimpin penelitian ini dengan menggunakan teleskop North Gemini sepanjang 8 meter di Hawaii, untuk melihat pergerakan bintang di sekitar lubang hitam di tengah galaksi M87.

"Sampai saat ini belum ada bukti mengenai keeksisan lubang hitam tersebut," ujar Gebhart. 

Gebhart mengatakan hal ini disebabkan karena lubang hitam di galaksi M87 begitu besarnya, sehingga batasnya tidak terlihat. Batas lubang hitam di galaksi M87 adalah tiga kali lebih besar dari orbit Pluto mengitari matahari, yang bisa saja membuat lubang hitam tersebut menelan satu galaksi secara keseluruhan.

Gebhart juga mengatakan bahwa mereka ke depannya bisa menggunakan jaringan teleskop di seluruh dunia untuk melihat bayangan dari batas lubang hitam raksasa tersebut.
(srn)
READ MORE - Lubang Hitam Terbesar Dapat Menelan Seluruh Galaksi

Empat Astronom RI Menjadi Nama Asteroid

Saturday, January 15, 2011

BANDUNG - Empat astronom dari Kota Bandung, Jawa Barat, diabadikan menjadi nama asteroid oleh International Astronomical Union (IAU) yang beranggotakan para astronom dari seluruh dunia.

Empat astronom ini merupakan mantan Kepala Observatorium Bosscha, Lembang, Jawa Barat. Mereka Bambang Hidayat, 76, Kepala Bosscha 1968–1999 yang diabadikan pada asteroid bernomor 12176. Nama asteroid itu kini menjadi asteroid Hidayat. Moedji Raharto, 56, Kepala Bosscha 1999– 2004 diabadikan pada asteroid 12177 dengan sebutan asteroid Raharto. Dhani Herdiwijaya, 47, Kepala Bosscha 2004–2005 jadi nama asteroid Dhani menggantikan asteroid 12178.

Lalu Taufiq Hidayat, Kepala Bosscha 2006-2010, diabadikan pada asteroid 12179 dengan sebutan asteroid Taufiq. Pengabadian empat astronom Indonesia menjadi nama asteroid ditetapkan dalam rapat eksekutif IAU bulan November 2010. IAU adalah lembaga astronomi tertinggi di dunia yang anggotanya hampir dari seluruh negara.

"Ini berarti dunia masih mengakui eksistensi Observatorium Bosscha dan mengakui apa yang dilakukan keempat astronom itu dalam dunia astronomi," ungkap Kepala Bosscha Hakim L Malasan kemarin.

Keempat astronom itu kebetulan berdomisili di Kota Bandung dan sama-sama jebolan Institut Teknologi Bandung. Kecuali Bambang Hidayat, semua astronom masih aktif mengajar sebagai dosen di ITB.

"Pak Bambang Hidayat sudah pensiun," sebut Hakim. Meski penetapan sudah dilakukan bulan November, IAU baru memublikasi hasil rapat eksekutif mereka dua bulan setelahnya atau Januari ini.

"Sebenarnya sejak November asteroid itu sudah bukan nomor lagi,tapi sudah berganti dengan nama empat astronom itu," terang Hakim. Empat asteroid yang hanya berupa nomor itu pertama kali tertangkap teleskop Schmidt 122 cm yang dipakai Cornelis Johannes van Houten dan Ingrid van Houten-Groeneveld di Observatorium Palomar. Diameter empat asteroid berkisar 1-1,5 km yang berjarak 500 juta km antara planet Mars dan Yupiter.

"Sesuai kesepakatan,asteroid yang ketemu oleh teleskop hanya diberi nomor katalog saja," terang Hakim.

Pengabadian nama empat astronom menjadi nama asteroid ini dapat disebut sebagai prestasi luar biasa karena tidak sembarang orang mengalaminya. Bambang, Moedji, Dhani maupun Taufiq merupakan orang Indonesia pertama yang diabadikan jadi nama asteroid.

"Sebelumnya belum pernah ada orang Indonesia yang jadi nama asteroid," kata Hakim. Meski di Benua Asia hal demikian bukan yang pertama, tapi keempatnya jadi yang pertama di regional Asia Tenggara.

"Di tingkat Asia, astronom dari Jepang dan India pernah, tapi di Asia Tenggara belum pernah ada," sebut Hakim. Empat astronom itu orang Indonesia pertama, tapi bukan Kepala Bosscha pertama yang diabadikan menjadi nama asteroid atau yang dikenal sebagai planet minor ini. Dalam situs langitselatan, ada dua nama Kepala Bosscha menjadi yang pertama diabadikan jadi nama asteroid, tapi keduanya berkebangsaan asing. Dua orang itu, Gale Bruno van Albada, Kepala Bosscha 1949–1958, dan Thé Pik Sin,Kepala Bosscha 1959–1968. 
READ MORE - Empat Astronom RI Menjadi Nama Asteroid

Zodiak Berubah, Ramalan Bintang Tak Lagi Akurat

NEW YORK - Belakangan, ramalan bintang dikabarkan tidak lagi akurat. Astronom menemukan, hal ini dikarenakan pola yang digunakan sudah kadaluarsa. Benarkah?

Dilansir melalui Daily Mail, Sabtu (15/1/2011), astronom dikabarkan telah meminta revisi ulang terkait penandaan zodiak karena dianggap tidak lagi akurat. Selama ini penandaan zodiak berdasarkan hitungan konstelasi zaman Babilonia yang menandakan kelahiran seseorang.

Namun kini setelah ribuan tahun, daya tarik gravitasi bulan telah membuat pergeseran bumi pada porosnya dan menciptakan pergeseran dengan jarak waktu satu bulan di penjajaran bintang.

Astronom pun akhirnya mengusulkan untuk memindahkan semua tanda bintang menjadi mundur satu bulan. Selain itu astronom juga memperkenalkan satu bintang baru, yaitu bintang ke-13 yang bernama Ophiuchus, untuk membantu menyesuaikan penanggalan zodiak baru.

Perubahan ini sepertinya tidak akan mendapatkan sambutan hangat dari para penikmat ramalan bintang. Namun bagaimanapun juga konstelasi bintang telah bergeser dan astronom menyatakan bahwa itu adalah satu-satunya jalan.

Nantinya, jika perubahan penanggalan zodiak ini benar terjadi, mereka yang terbiasa dengan karakter Leo yang dominan dan kreatif akan berubah menjadi si Cancer yang moody dan sensitif. Sedangkan si Scorpio yang biasa bersemangat akan menjadi Libra yang bijak dan selalu seimbang. Bahkan jika anda adalah si Taurus, maka karakter tersebut akan berubah menjadi Aries yang keras kepala.

Perubahan ini telah disarankan oleh Astronom asal Minneapolis Community and Technical College, Parke Kunkle.

Selama ini para astronom mempelajari luar angkasa dan bintang-bintang dari sudut pandang ilmiah, sedangkan astrolog menuliskan horoskop dan mengklaim bahwa benda-benda angkasa dapat mengungkap ciri dan kepribadian seseorang.

"Semua orang yang telah membaca ramalan yang salah belakangan ini. Ketika astrolog menyatakan matahari sedang berada di konstelasi Pisces, ternyata tidak benar-benar berada di Pisces," ujarnya.

Secara historis, lanjut Kunkle, semua orang selalu menatap langit untuk memahami sekeliling. Namun saat ini saya rasa astrolog jarang melihat langit. Tanda-tanda zodiak telah memiliki akar miitologi dan berhubungan dengan legenda 12 dewa Olimpia berubah menjadi hewan untuk melarikan diri dari badai topan hebat yang menyebabkan malapetaka di bumi.

Awalnya perhitungan bintang memang ditentukan oleh konstelasi langit dimana matahari berada sejajar dengan waktu kelahiran seseorang. Sejak itu, bagaimanapun, astrolog telah mengadopsi sebuah sistem matematis yang menyamakan diri dengan langit, sehingga posisi rasi bintang saat ini dianggap tidak lagi relevan.

Tanda bintang ke-13 yang diusulkan, Ophiuchus, adalah konstelasi di luar angkasa dengan yang dilambangkan sebagai seorang individu berotot yang memegang ular mengarah ke langit. Mereka yang lahir di bawah Ophiuchus dikatakan memiliki cita-cita mulia, akan hidup panjang umur dan berdaya cipta (inventif). Pemilik zodiac Ophiuchus adalah mantan orang-orang berzodiak Scorpio atau Sagitarius. (srn)
READ MORE - Zodiak Berubah, Ramalan Bintang Tak Lagi Akurat

Bayi Lubang Hitam Ini Bisa Melahap Bumi

Monday, December 13, 2010


Para astronom baru-baru ini menemukan fenomena di luar angkasa, yang mereka yakini sebagai lahirnya suatu "Lubang Hitam" hasil dari ledakan suatu bintang (supernova) lebih dari 30 tahun lalu. Lubang itu sangat rakus dan menelan apa yang ditemui, termasuk benda luar angkasa sebesar Bumi.

Demikian ungkap Avi Loeb, seorang astrofisikawan dari Universitas Harvard yang bekerjasama dengan Badan Antariksa AS (NASA), Senin 15 November 2010. Loeb mengungkapkan bahwa kemunculan Lubang Hitam itu hasil dari ledakan suatu bintang yang pertama kali ditemukan pada 1979.

Ledakan itu cukup besar untuk menimbulkan suatu lubang hitam. Tim astronom meyakini itu sebagai Lubang Hitam karena konstan melumat sisa-sisa bintang yang meledak. Itulah ciri-ciri Lubang Hitam, menghisap apa saja yang ada di depannya.

Menurut Loeb, dalam 30 tahun terakhir sejak supernova, bayi Lubang Hitam ini telah menelan benda yang massanya setara dengan Bumi. Menurut kantor berita Associated Press (AP), temuan Loeb dan rekan-rekannya ini dipublikasikan dalam suatu makalah yang dimuat di jurnal "New Astronomy."

"Dia [lubang hitam itu] ibarat pemakan planet dalam film 'Star Trek,'" kata ahli astrofisika dari NASA yang juga rekan Loeb, Kimberly Weaver, seperti dikutip AP. Lubang hitam itu begitu padat sehingga tidak ada unsur apapun - termasuk cahaya sekalipun - yang bisa lolos.
 
Dengan menggunakan pantuan teleskop milik NASA, Chandra X-Ray, dan teleskop-teleskop lain, Lubang Hitam itu diperkirakan berjarak sekitar 50 juta tahun cahaya dari Bumi dan terletak di salah satu galaksi Virgo, demikian menurut laman harian The Los Angeles Times.

"Lubang Hitam ini berukuran sekitar lima kali lebih besar dari matahari kita dan bintang yang meledak yang memunculkan benda itu kemungkinan 20 kali lebih besar dari matahari kita," kata Dan Patnaude, peneliti dari Harvard.

Dengan situasi saat ini, Lubang Hitam yang bernama ilmiah SN 1979C itu bisa membesar dua kali lipat dalam 40 juta tahun mendatang. "Benda ini memakan sebanyak yang dia bisa...mirip dengan remaja atau anak kecil," kata Patnaude. Tim peneliti yakin bahwa benda yang mereka temukan itu kemungkinan besar adalah Lubang Hitam.
Dalam ilmu astronomi, benda kosmik ini bukanlah sebuah lubang dalam arti harafiah, tetapi merupakan sebuah wilayah di mana hampir semua unsur tidak dapat lolos karena memiliki gaya gravitasi yang sangat besar.
READ MORE - Bayi Lubang Hitam Ini Bisa Melahap Bumi

 
 
 

Entri Populer

Statistik

Labels

alam semesta (30) all operator (2) berita (151) bisnis (24) browser (2) busines (17) cashtree (1) cheat (4) db clix (6) downhill (1) gadged (13) game (4) gprs (1) gta (1) guitar hero (1) hack (5) handphone (11) humor (1) info (211) investasi (5) jagad raya (24) kesehatan (11) klik iklan (5) kuliner (1) lawang sewu (1) mars (5) mio modifikasi (1) news (147) otomotif (9) payment proof (6) peluang usaha (2) pernikahan (2) planet (9) ps2 (5) ptc (11) pulsa (2) pulsa murah (1) renungan (1) rumah tangga (2) sejarah (8) semarang (1) senjata (2) server (2) sport (2) suami istri (7) supra modifikasi (1) tekhnologi (19) the warior (1) tips (41) trik (21) ufo (4) vega modifikasi semarang (2) virus (3)